Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

Eits… jangan ngira-ngira apakah saya sudah hamil anak selanjutnya yah… blog ini mau menceritakan tentang kekhawatiran saya dan beberapa teman yang saya tanyakan via Instagram saat proses kehamilan di Jepang.

    Meskipun dikenal sebagai salah satu negara dengan fasilitas medis yang sangat mumpuni, saya rasa tetap akan lebih nyaman di negeri sendiri karena adanya support system dari keluarga. Ditambah dengan keterbatasan Bahasa Jepang, yang walaupun saat itu sudah belajar 1.5 tahun kelas Bahasa Jepang, jadi lebih was-was ketika akan memeriksa kandungan. Alhamdulillah nya, saat pemeriksaan kehamilan di Kawasaki Tama Hospital saat itu, ada interpreter yang bisa menerjemahkan penjelasan dokter ke Bahasa Inggris.

    Saya jadi teringat, kehamilan saya saat itu sangat dinantikan oleh saya dan suami karena kami menunggu satu tahun untuk saya boleh mengandung, setelah sebelumnya saya mengalami keguguran. Namun pada saat itu, pak suami diharuskan menjalani internship tiga bulan saat kandungan saya mulai besar, saat saya hamil usia kandungan 6, 7, dan 8 bulan. Lokasi internship nya berjarak 2 jam dari rumah, dan akhirnya diputuskan bahwa pak suami menginap di asrama yang disediakan oleh institute untuk internshipnya, alias saya ditinggal sendirian di rumah. Akhirnya, kami meminta bantuan dari adik-adik di Indonesia untuk menemani saya ketika suami sedang internship. Adik kami yang perempuan berjumlah tiga orang dan satu sepupu bergantian seperti piket per bulan menemani saya di rumah. Perasaan saya saat itu antara sedih tapi juga tidak mau menghambat keberlangsungan sekolah suami. Akhirnya saya berusaha kuat dan alhamdulillah Allah mudahkan. Mungkin kalau di Indonesia, saya akan lebih manja dan ingin lebih dimengerti. Memang pasti ada plus minus dari setiap kondisi.

    Jepang sendiri menganut sistem sangat pro terhadap kelahiran normal, maka rata-rata dokter kandungan akan memberikan batas maksimal kenaikan berat badan. Untuk saya, waktu itu dokter memberi batas 9 kg dari BB awal, namun dikarenakan trimester pertama saya muntah hebat, saya turun 2 kg dan menjadi tabungan kenaikan BB saya. Total kenaikan BB saya yang diperbolehkan adalah 11 kg dari BB awal.

Selama kehamilan, perubahan yang saya waspadai dan saya rasakan, ditambah dengan share dari teman-teman di Instagram stories adalah

1. Kenaikan berat badan yang menimbulkan stretch mark di tubuh. Sebenarnya stretch mark menurut saya salah satu hal yang kemungkinan besar terjadi saat hamil, dan saya saat itu sudah berusaha untuk menggunakan oil khusus yang diformulasikan untuk perut ibu hamil. Tapi eng ing eng… tetap saja ada pemirsa… namun mungkin akan lebih parah jika tidak menggunakan oil khusus tersebut. Stretch mark ini awalnya saya rasakan berupa gatal di bagian perut dan awalnya memerah hingga akhirnya menjadi warna putih.

2. Perubahan mood. Saya merasakan saat hamil saya menjadi lebih sensitif. Walaupun tidak ada permintaan aneh karena sudah didoktrin semenjak sebelum hamil oleh pak suami, saya merasa lebih ingin diperhatikan dan dimengerti. Karena wanita ingin dimengerti~~~

3. Saat hamil cukup besar, badan jadi lebih cepat pegal dan lelah, jalan sedikit sudah lelah. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba yoga pemula dari mbah youtube untuk ibu hamil and it worked alhamdulillah. Pegal-pegal saya jadi berkurang, dan tubuh terbantu sedikiiiiiiiit lebih nyaman. Kenapa hanya sedikit? Namanya ibu hamil yang buibuk, pengap dan sakit badan pasti selalu terasa

4. Adanya kekhawatiran tentang perkembangan bayi di perut, apakah bayi terlalu kecil atau terlalu besar, dan apakah bayi sehat di dalam kandungan. Jujur dengan kejadian keguguran, aku selalu deg-degan saat akan diperiksa oleh dokter. Berdoa dahulu sebelum masuk ruang periksa, semoga adik bayi dalam kondisi sehat dan normal.

5. Saya pribadi dari kecil sangat takut dengan jarum suntik, rumah sakit, dan teman-teman nya. Akhirnya saya memberdayakan diri dengan membaca buku #BEBASTAKUT HAMIL DAN MELAHIRKAN, dan juga memfollow beberapa bidan yang ada di Instagram. Saya juga sempat menonton video-video orang melahirkan. Semua yang saya lakukan akhirnya memberikan sugesti bahwa kehamilan itu adalah ada kerjasama antara tubuh saya dan bayi yang saya kandung. Bahwa tubuh saya memang sudah Allah swt ciptakan untuk bisa mengeluarkan bayi. Bahwa adik bayi nantinya akan memilih sendiri jalan lahirnya, entah itu cepat atau lambat. Dan video melahirkan beberapa orang yang bisa sambil tersenyum membuat saya mensugesti bahwa insya Allah bisa dilalui dan akan bertemu dengan sosok kecil yang sudah dinantikan.

6. Takut dengan baby blues karena akan membesarkan sang anak tanpa bantuan dari orang tua. Sebagai orang tua yang baru ditambah di negeri orang, tentunya hal ini wajar. Bahkan beberapa orang Jepang memberitahu saya bahwa mereka biasanya akan pulang ke kampung halamannya selama 3 bulan setelah melahirkan, untuk tinggal bersama orang tuanya. Bayangkan saja… wanita-wanita Jepang yang mandiri itu mereka bahkan butuh bantuan dan bimbingan. Namun apa di Indonesia menjamin tidak terkena baby blues? Kalau saya waktu itu, sempat pulang ke Indonesia saat anak berusia 3 bulan. Faza yang sangat montok dan gembul sering dikomentari fisiknya oleh orang dekat atau bahkan orang asing. “Gendut bangeet bayinya,yaampun..” komentar seperti ini yang nadanya seperti merendahkan, membuat saya overthinking saat itu. “Kok gendongnya begitu posisinya?” kata seorang ibu saat saya menggendong pakai ergobaby posisi M-shape, bisa jadi sang ibu ini memang tidak mengetahui karena tidak umum pada zamannya. Kesimpulan yang saya dapatkan ialah… mungkin saya merasa lelah fisik yang berlipat di Jepang, namun bisa jadi di Indonesia fisik saya tidak terlalu lelah namun pikiran saya yang lelah karena banyaknya orang berkomentar.

7. Takut ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Pemikiran ini alhamdulillah dibantu disingkirkan oleh suster dan dokter kandungan saya yang mengecek kondisi ASI saya saat hamil dan mereka bahkan mengajarkan pijat laktasi. Saya juga memberdayakan diri dengan membaca buku “Buku Pintar ASI dan MENYUSUI” yang menjabarkan bagaimana volume ASI yang dikeluarkan pada awal-awal menyusui, makanan yang baik untuk memperlancar ASI, dan bahkan pijat oksitosin untuk memperlancar ASI. Memang jaman sekarang dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, alhamdulillah banyak sarana yang bisa kita pakai untuk belajar.

Untuk teman-teman yang sedang hamil dan membaca ini baik sedang di Jepang atau di Indonesia, semoga Allah kuatkan dan mudahkan. Menurut saya pribadi pasti setiap tempat ada tantangannya, bisa jadi juga tantangan setiap orang berbeda-beda. Intinya, insya Allah dengan kita berusaha untuk berdaya lewat membaca buku ataupun jurnal-jurnal, jadi punya dasar untuk keputusan (contoh sederhana:keputusan memakan nanas) yang kita ambil saat hamil. Yakinlah ada seorang sosok kecil di dalam perut yang Allah anugerahkan, sangat butuh kita dan akan ikut senang jika ibu nya senang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

It takes a village to raise a child

Langkah Kecil di Dunia yang Asing