It takes a village to raise a child
"It takes a village to raise a child."
Frasa yang populer ini sangat berasa buat ku yang membesarkan kedua anak laki-laki (saat ini berusia 7 tahun dan 2 tahun) di Jepang. Summer kemarin aku pulang bersama keluarga ke Indonesia selama sebulan, biasanya kami hanya pulang maksimal dua minggu, dan kepulangan kali ini meninggalkan kesan yang dalam bukan hanya bagiku, tapi juga bagi anak pertamaku. Dia sampai ingin pindah sekolah ke Indonesia. Aku tersenyum meng-aamiin-kan dan meminta dia untuk banyak berdoa agar suatu saat Allah memberikan rezeki untuk kami di tempat yang baik di Indonesia. Di doa tambahanku semoga pemerintahnya diganti dengan orang-orang yang kompeten dan bekerja untuk memajukan rakyat, bukan memajukan perut apalagi memajukan anak.
Selama kami pulang kemarin, hati rasanya penuh dan hangat. Anak-anak pun merasa senang karena bisa bermain dengan nenek, kakek, tante, om, sepupu, dan sanak saudara yang lain. Berada di tengah orang-orang yang menganggapmu bagian dari mereka jarang aku rasakan selama di Jepang dan perasaan ini menyenangkan. Aku yang biasanya sendiri mengurus mereka (tentu suami juga membantu setelah pulang bekerja dan saat libur), apalagi si toddler yang 24/7 menempel terus, sangat terbantu dengan kehadiran keluarga. Kosakata si toddler banyak bertambah seiring dia sering berinteraksi dan bermain menggunakan bahasa yang sama. Tidak banyak dibahas, namun untukku pribadi, salah satu tantangan untuk membesarkan anak di negeri yang bahasanya pun berbeda adalah mengajarkannya berbicara. Aku dan suami benar-benar harus hadir bukan hanya fisik namun secara mindful terlibat dalam interaksi sehari-hari bersama anak. Sesuatu yang di satu hari bisa berlangsung ideal di mana aku bagaikan ibu peri, namun di hari lain ketika sedang terlalu lelah bisa berubah menjadi peri...hatin...
Kemudahan yang sangat signifikan lainnya adalah gofood dan layanan pesan antar makanan lain, betapa banyak pilihan makanan halal dan enak yang bisa diakses kapanpun di manapun. Di Jepang, menu masakan ku selalu menyesuaikan selera anak-anak, tanpa rasa pedas. Tentu terkadang kami membeli makanan dari diaspora Indonesia yang berjualan, namun banyak yang jaraknya jauh dan harus melalui pengiriman pos beberapa hari. Aku juga jarang membuat sambal dan biasanya membeli sambal kemasan. Terakhir ketika membuat sambal terasi, keesokan harinya datang surat cinta teguran dari agen tempat tinggal kami. Padahal sebagai orang sunda kw, apalah makan tanpa sambal. Selama di Indonesia, seluruh rasa manis, asam, pedas bisa kami dapatkan dengan instan hanya dengan bermodal gadget dan jempol. Lengkap dengan rasa pahit saat melihat sisa saldo. Rasanya abang gofood dan kawan-kawan termasuk dalam support system membesarkan anak, membawa kebahagiaan untuk seorang ibu ke rumah.
Setelah menjalani kehidupan 12 tahun tinggal di Jepang, rasanya aku sudah dipaksa untuk terbiasa 'membaca' atmosfir, gesture secara implisit, memberi personal space, dan menghindari hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman termasuk mengobrol dengan suara kencang saat di restoran atau di dalam transportasi umum. Tradisi orang Jepang ini sangat kukagumi. Namun, besar di negara yang warganya suka berbasa basi bahkan dengan orang yang baru kenal, membuatku sering merindukan keriuhan yang mengandung kehangatan di Indonesia (kecuali suara sound horeg, kamu gak diajak ya). Khususnya ketika punya toddler yang suka bernyanyi dan membeo dengan suara yang tidak pelan itu, aku seringkali overthinking sebelum naik kereta atau sekedar makan di restoran. Khawatir suara atau rengekan anakku akan mengganggu orang sekitar. Selama di Indonesia kemarin, aku bisa lebih menikmati waktu makananku karena para nenek kakek akan dengan senang hati menjaga cucunya sementara aku makan.
Komentar
Posting Komentar