Langkah Kecil di Dunia yang Asing
Setiap orang punya flashbulb memory, yang berarti ingatan akan sebuah momen yang tersimpan di dalam otak dan kita ingat betul detail dari momen tersebut. Salah satu flashbulb memory dari setiap ibu sepertinya momen anak pertama kali sekolah. Aku masih ingat perasaan campur aduk yang kurasakan saat mengantar anak pertamaku ke gerbang sekolah TK. Saat itu sedang musim semi, udara sejuk dengan sinar matahari yang menghangatkan. Aku juga ingat baju seragam jas berwarna abu-abu yang sengaja kami beli berukuran besar dengan harapan tetap muat hingga dia lulus sekolah TK, ransel yang bertengger di pundaknya, dan dia yang duduk di boncengan sepeda dengan riang tanpa beban. Saat itu benakku diliputi berbagai kekhawatiran; apakah dia bisa beradaptasi di lingkungan barunya dengan banyak peraturan baru, kebiasaan baru, dan khususnya bahasa baru. Tidak lepas juga rasa gugup apakah akan mudah baginya untuk mendapatkan teman baru khususnya ketika penampilan fisiknya saja sangat berbeda dibandingkan teman-temannya. Sepertinya dia juga sudah memiliki firasat kalau ini akan menjadi langkah kecil pertamanya di tempat baru tanpa ditemani olehku. Dia langsung menangis dikala sensei menyambut dan aku mengucapkan perpisahan. Tanpa ba bi bu, sensei langsung menggendongnya dan aku terpaku di tempat selama beberapa detik karena berpisah secara tiba-tiba, memproses kejadian yang baru saja terjadi.
Di TK tempat anakku bersekolah, orang tua diharapkan untuk langsung pergi dan memercayakan pada para sensei untuk menangani proses adaptasi anak. Orang tua tidak diperkenankan melewati batas pagar sekolah, apalagi sampai masuk ke dalam kelas untuk mengantarkan anak. Jam untuk sekolah sendiri pada minggu awal anak masuk TK hanya selama dua jam, sementara normalnya anak bersekolah selama 4-5 jam termasuk jam makan siang di sekolah. Saat proses penjemputan, anak-anak akan dibagi menjadi tiga waktu penjemputan dengan jeda 10 menit. Semakin tinggi tingkat anak, maka akan semakin siang waktu untuk pulangnya. Sebagai contoh; anak dengan tingkat usia 3-4 tahun pulang jam 13:50, 4-5 tahun jam 14:00, dan 5-6 tahun jam 14:00. Hal ini bertujuan agar tidak menumpuknya antrian di depan gerbang sekolah yang akan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar sekolah.
Pada minggu pertama, anakku sempat tidak mau sekolah. Maka sofa coklat di ujung ruangan menjadi saksi saat aku memeluknya lebih lama dari biasanya pagi itu, kami berangkat setelah dia sudah merasa cukup nyaman setelah dipeluk. Sepulang dari sekolah aku belikan es krim rasa cokelat vanila sebagai apresiasi dia mau berjuang hari itu. Malamnya aku dengar ceritanya dan memberikan respons yang lebih heboh serta meyakinkan dia untuk sekolah kembali agar bersenang-senang main bersama para sensei dan teman-temannya. Dengan berbekal ilmu dari artikel psikologi anak yang kubaca, maka kuperhatikan dia apakah malam-malamnya lebih gelisah dari biasanya atau makannya lebih tidak bernapsu dibandingkan biasanya. Tidak lupa doa pun kupanjatkan lebih kencang. Karena hanya Sang Khalik lah sebaik-baik penjaga bahkan saat tangan dan mata ini tidak dapat menjaga.
Sejak dia mulai masuk sekolah, dia dibiasakan untuk secara mandiri melakukan banyak hal seperti meletakkan barang-barang yang sudah selesai digunakan pada tempatnya, mengantri giliran untuk berkumur setelah makan siang, makan bekal dengan batas waktu yang sudah ditetapkan, dan membawa peralatan sekolah. Dengan berbagai kebiasaan baru ini, pada beberapa bulan awal, dia akan tersenyum saat mengucapkan selamat tinggal lengkap dengan kissbye dan tangan yang membentuk saranghaeyo namun akan menangis di pelukan saat tiba waktu pulang sekolah. Seolah seluruh emosi yang dia tahan selama bersekolah luruh saat berada di dalam pelukanku.
Dia sudah mulai dapat beradaptasi dengan ritme sekolah pada hari-hari setelahnya. Dalam rangka proyek prakarya akhir tahun, biasanya sekolah meminta kami untuk membawakan kardus bekas, karton bekas susu/jus yang sudah tidak terpakai, bahkan gulungan sisa tisu toilet/tisu dapur pun tidak lepas untuk dimanfaatkan. Setiap kelas diberikan tema besar dan setiap anak dibebaskan untuk membuat sesuatu sesuai imajinasinya namun masih terkait tema. Kemudian hasilnya disusun seperti pameran karya seni dan dipamerkan pada orang tua. Kebiasaan memanfaatkan barang bekas ini dia bawa sampai ke rumah, dia seringkali mencari kardus bekas serta botol bekas untuk digunting dan ditempel mengikuti imajinasinya.
Di sekolahnya ada pula sesi dibacakan buku cerita oleh sensei dan meminjam beberapa buku yang bebas dipilih dari perpustakaan sekolah. Selain itu, ada buku yang dibagikan setiap bulan untuk setiap anak berisi beberapa cerpen untuk dibaca di rumah. Anak-anak baru diajarkan menulis hiragana, katakana, dan angka 1-10 saat mereka di tingkat akhir. Mereka diajarkan untuk memahami dan menyukai baca buku sebelum mengajarkan membaca dan menulis.
Ada juga beberapa event khusus yang diadakan sekolah dimana setiap musim panas, anak-anak diminta membawa baju berenang saat hari berenang atau baju ganti saat jadwal mereka bebas bermain di atas lumpur. Selain itu, ada juga event hari olahraga yang diadakan rutin setiap tahun dimana orang tua juga ikut berpartisipasi di lomba khusus orang tua dan anak. Puncaknya adalah saat anak naik ke tingkat selanjutnya mereka akan tampil di panggung bersama dengan teman-temannya lengkap menggunakan kostum. Kostum yang mereka gunakan adalah hasil karya para orang tua. Sekolah akan memberikan bahan baku dan menjelaskan proses pembuatan kostum, kemudian orang tua membuatnya di rumah masing-masing. Akan ada satu halaman pdf yang berisikan gambar kostum, nama-nama bahan yang dibutuhkan, dan ukuran setiap bahan. Semakin tinggi tingkat anak, kostum akan semakin rumit. Jika di tingkat awal dan tengah aku hanya butuh skill untuk potong dan tempel, maka di tingkat akhir, aku harus memanfaatkan ilmu menjahit minim ini untuk menjahit beberapa bagian dari kostum.
Komentar
Posting Komentar