Postingan

Dua Bunga yang Telah Gugur

Bunga Pertama yang Gugur Kami biasa memanggilnya emak, kadang aku bercanda memanggil beliau emak cantik. Memang buatku emak selalu cantik. Emak tinggal di Majalengka, dimana tempat kami biasa pulang kampung saat lebaran. Saat kecil, aku pernah tinggal sebulan sendiri di rumah emak selama sebulan pada bulan ramadan. Satu momen yang sangat aku ingat ialah saat aku sakit demam dan emak menemaniku ke dokter naik becak. Di depan rumah emak ada pohon kelapa, pohon mangga, dan ada area untuk kami bermain pasir saat kecil. Dulu ayah dan para uwa pernah membuatkan kami ayunan yang diikat ke dua pohon. Kami cucu-cucu sangat senang bermain di sana. Emak tinggal seorang diri di rumahnya, karena abah sudah meninggal saat aku sangat kecil di usia belum sekolah. Emak sangat senang mengobrol dan tertawa bersama. Maka momen lebaran saat semua anak dan cucu berkumpul adalah momen yang emak sukai. Rumah emak ada tiga kamar tidur, satu ruang tamu, dan ruang tv. Momen lebaran rumah emak sangat penuh, kami ...

Langkah Kecil di Dunia yang Asing

    Setiap orang punya flashbulb memory , yang berarti ingatan akan sebuah momen yang tersimpan di dalam otak dan kita ingat betul detail dari momen tersebut. Salah satu flashbulb memory  dari setiap ibu sepertinya momen anak pertama kali sekolah. Aku masih ingat perasaan campur aduk yang kurasakan saat mengantar anak pertamaku ke gerbang sekolah TK. Saat itu sedang musim semi, udara sejuk dengan sinar matahari yang menghangatkan. Aku juga ingat baju seragam jas berwarna abu-abu yang sengaja kami beli berukuran besar dengan harapan tetap muat hingga dia lulus sekolah TK, ransel yang bertengger di pundaknya, dan dia yang duduk di boncengan sepeda dengan riang tanpa beban. Saat itu benakku diliputi berbagai kekhawatiran; apakah dia bisa beradaptasi di lingkungan barunya dengan banyak peraturan baru, kebiasaan baru, dan khususnya bahasa baru. Tidak lepas juga rasa gugup apakah akan mudah baginya untuk mendapatkan teman baru khususnya ketika penampilan fisiknya saja sang...

It takes a village to raise a child

" It takes a village to raise a child ."           Frasa yang populer ini sangat berasa buat ku yang membesarkan kedua anak laki-laki (saat ini berusia 7 tahun dan 2 tahun) di Jepang. Summer  kemarin aku pulang bersama keluarga ke Indonesia selama sebulan, biasanya kami hanya pulang maksimal dua minggu, dan kepulangan kali ini meninggalkan kesan yang dalam bukan hanya bagiku, tapi juga bagi anak pertamaku. Dia sampai ingin pindah sekolah ke Indonesia. Aku tersenyum meng-aamiin-kan dan meminta dia untuk banyak berdoa agar suatu saat Allah memberikan rezeki untuk kami di tempat yang baik di Indonesia. Di doa tambahanku semoga pemerintahnya diganti dengan orang-orang yang kompeten dan bekerja untuk memajukan rakyat, bukan memajukan perut apalagi memajukan anak.           Selama kami pulang kemarin, hati rasanya penuh dan hangat. Anak-anak pun merasa senang karena bisa bermain dengan nenek, kakek, tante, om, sepupu, dan sanak ...

Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

Eits… jangan ngira-ngira apakah saya sudah hamil anak selanjutnya yah… blog ini mau menceritakan tentang kekhawatiran saya dan beberapa teman yang saya tanyakan via Instagram saat proses kehamilan di Jepang.      Meskipun dikenal sebagai salah satu negara dengan fasilitas medis yang sangat mumpuni, saya rasa tetap akan lebih nyaman di negeri sendiri karena adanya support system dari keluarga. Ditambah dengan keterbatasan Bahasa Jepang, yang walaupun saat itu sudah belajar 1.5 tahun kelas Bahasa Jepang, jadi lebih was-was ketika akan memeriksa kandungan. Alhamdulillah nya, saat pemeriksaan kehamilan di Kawasaki Tama Hospital saat itu, ada interpreter yang bisa menerjemahkan penjelasan dokter ke Bahasa Inggris.      Saya jadi teringat, kehamilan saya saat itu sangat dinantikan oleh saya dan suami karena kami menunggu satu tahun untuk saya boleh mengandung, setelah sebelumnya saya mengalami keguguran. Namun pada saat itu, pak suami diharuskan menjalani interns...

Faza : From not wanting to go to school to often misses school

In the beginning, when my husband and I decided that Faza would go to school at 3 years old, we promised ourselves not to force Faza so much considering his age was actually too young to enter academic stage. Moreover, we live as a minority and people do not speak our mother tongue language. If one day Faza seemed to face so much difficulty adapting to his school, we might even take a break and tried to understand Faza’s situation first. Honestly, there were many times I asked myself whether it was a good decision or not. Especially during first days of school. Faza would cry his eyes out and whenever I asked him “Is your sensei nice?” He would say “No, she is not nice.” In the third day, he did not want to go to school but I tried to persuade him by saying that his father and I went to school as well but we went to different school. And he was like “Really?” and finally he wanted to go to school. The next day, he wanted to go to school but on the way to the school, he was quiet. It fe...

Cerpen - Dengarkan

 Siti menatap buah hatinya yang sedang bermain pasir sendirian, menyerok pasir dengan serokan berukuran kecil dan ditaruh ke beberapa mainan lainnya, ditaruh ke atas replika truk pasir, dan mobil semen berbahan plastik. Tampak buah hatinya tersenyum seakan telah selesai mengerjakan tugas yang sulit. Tanpa sadar ujung bibirnya ikut tersenyum, kebahagiaan memang menular. Namun, rasa bahagia itu tiba-tiba berubah 180 derajat saat pikirannya malah terlempar ke momen-momen di rumah bersama teman hidupnya. Pikiran manusia ini memang kompleks, ada saja waktu pikiran berganti menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Siti sadar bagaimana komunikasi nya dengan sang suami akhir-akhir ini tidak sehat. Setiap hari suami nya bangun siang ketika dia sudah akan mengantarkan sang anak ke sekolah, dan pulang malam hari, saat dia dan anaknya sudah terlelap. Bukannya tidak bersyukur, tapi bukannya untuk perempuan bercerita tentang hari-harinya itu hal yang penting? “Mengapa tidak kau mulai saja per...

Faza : Dari takut om-om menjadi SKSD

Faza yang dulu bukanlah Faza yang sekarang.. Masya Allah gak kerasa udah tiga tahun usia Faza sekarang dengan kebawelannya, sifat jahilnya, dan sifat sok kenal sok deket bahkan ke om2 yang jaga seven eleven sampe ibun malu sendiri. Tapi percayalah dulu Faza kalo ketemu sama orang baru, dia akan menangis dan mau nya dipeluk sama ibun atau ayah, khususnya saat ketemu om2. Faza dari awal lahir sampai usia 6 bulan (November 2018 - Mei 2019) cukup sering berinteraksi dengan orang baru karena ibun dan ayah juga sempat bawa Faza pulang ke Indonesia dua kali. Saat itu kami juga masih tinggal di apartemen yang dekat jidoukan (tempat main anak yang dikelola oleh pemerintah) dan sebisa mungkin ibun membawa Faza main ke sana. Walaupun hanya orang asing sendirian yang biasa nya main di sana dan dengan keterbatasan bahasa jepang ibun, tapi kami tetap menikmati fasilitas yang ada di sana. Di dalam jidoukan itu ada tiga ruang bermain indoor; satu ruangan untuk anak yang sudah tiga tahun ke atas yang b...