Cerpen - Dengarkan

 Siti menatap buah hatinya yang sedang bermain pasir sendirian, menyerok pasir dengan serokan berukuran kecil dan ditaruh ke beberapa mainan lainnya, ditaruh ke atas replika truk pasir, dan mobil semen berbahan plastik. Tampak buah hatinya tersenyum seakan telah selesai mengerjakan tugas yang sulit. Tanpa sadar ujung bibirnya ikut tersenyum, kebahagiaan memang menular.

Namun, rasa bahagia itu tiba-tiba berubah 180 derajat saat pikirannya malah terlempar ke momen-momen di rumah bersama teman hidupnya. Pikiran manusia ini memang kompleks, ada saja waktu pikiran berganti menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Siti sadar bagaimana komunikasi nya dengan sang suami akhir-akhir ini tidak sehat. Setiap hari suami nya bangun siang ketika dia sudah akan mengantarkan sang anak ke sekolah, dan pulang malam hari, saat dia dan anaknya sudah terlelap. Bukannya tidak bersyukur, tapi bukannya untuk perempuan bercerita tentang hari-harinya itu hal yang penting?

“Mengapa tidak kau mulai saja percakapan?” Kata hati nya dan mungkin ribuan netizen yang memberi solusi tanpa tahu situasi.

Andai saja mereka tahu… bagaimana respons sang suami ketika dia berusaha bercerita dan hanya ingin didengar.

“Abi, umi kayaknya gak bisa nih.. huhu gimana dong?” Curhat Siti saat mengerjakan pesanan baju jahitan dari salah satu konsumennya. Tiba-tiba supplier kainnya mengabarkan kalau kain customized yang diinginkannya akan terlambat karena ada longsor di jalan.

Alih-alih ditenangkan dan diberikan solusi dengan halus, sang suami malah berkata. “Ya ampun gitu aja nangis. Yaudah kan bisa bilang ke konsumen kamu buat nunggu dulu, makanya kalau apa-apa tuh diperhitungkan waktunya. Kasih waktu yang pesimis, misal nya kamu bisa selesai 1 minggu, tapi kan ada hal-hal yang gak diduga, kasihnya 2 minggu.” Ujar suami nya dengan nada yang tinggi. Seakan solusi itu bisa menenangkan sang istri, seakan-akan itu solusi yang bisa dilakukan saat ini. Perkataan suami nya hanya membuat Siti diam.

Atau pada momen lain nya, saat Siti sedang bercerita hal yang menyenangkan yang terjadi pada nya.

“Abi.. tau enggak, alhamdulillah umi dipilih jadi salah satu penjahit yang dipercaya oleh konsumen di shopee. Senang banget.“ belum selesai dia bercerita, dia menengok ke sang suami yang malah mendengarkan headset di salah satu telinga nya.

“Eh kenapa umi?” Kata suami nya seakan tidak peduli dan tidak mendengar ceritanya.

“Itu lho, umi dipilih jadi salah satu penjahit yang dipercaya konsumen. Nanti mau ada orderan banyak alhamdulillah seneng banget, ada 5 konsumen mengantri sekarang.” Kelakuan sang suami tidak membuat Siti sirna bahagianya karena dia mendapat kabar menggembirakan.

“Lho emang cukup waktunya? Jangan dipaksain kalo gak bisa lho. Nanti malah repot lagi di rumah.” Sahut suami nya.

Lagi-lagi kalimat sang suami bisa membuat moodnya jadi berubah. Ingin rasanya dia menangis berteriak. Betapa berbeda nya ketika dia yang bercerita dan suami yang bercerita. Rasa-rasanya dia selalu menyimak cerita suami nya, berhati-hati memberikan solusi agar tidak menyinggung perasaan suami nya.

Momen-momen seperti ini sudah sering terjadi, padahal usia pernikahan baru 3 tahun, kata orang seharusnya masa-masa ini suami istri masih mesra.. seharusnya masih ingin lebih saling mendengar.. seharusnya masih berlimpah rasa kasih sayang suami dan istri… seharusnya… ah begitu banyak seharusnya.

“Umi, pulang.” Lamunan nya dipecahkan oleh ujaran sang anak. Berdua dia dan sang anak berjalan kaki beriringan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

It takes a village to raise a child

Langkah Kecil di Dunia yang Asing