Faza : Dari takut om-om menjadi SKSD
Faza yang dulu bukanlah Faza yang sekarang..
Masya Allah gak kerasa udah tiga tahun usia Faza sekarang dengan kebawelannya, sifat jahilnya, dan sifat sok kenal sok deket bahkan ke om2 yang jaga seven eleven sampe ibun malu sendiri. Tapi percayalah dulu Faza kalo ketemu sama orang baru, dia akan menangis dan mau nya dipeluk sama ibun atau ayah, khususnya saat ketemu om2.
Faza dari awal lahir sampai usia 6 bulan (November 2018 - Mei 2019) cukup sering berinteraksi dengan orang baru karena ibun dan ayah juga sempat bawa Faza pulang ke Indonesia dua kali. Saat itu kami juga masih tinggal di apartemen yang dekat jidoukan (tempat main anak yang dikelola oleh pemerintah) dan sebisa mungkin ibun membawa Faza main ke sana. Walaupun hanya orang asing sendirian yang biasa nya main di sana dan dengan keterbatasan bahasa jepang ibun, tapi kami tetap menikmati fasilitas yang ada di sana. Di dalam jidoukan itu ada tiga ruang bermain indoor; satu ruangan untuk anak yang sudah tiga tahun ke atas yang bisa pretend play karena di dalamnya banyak juga kostum2 princess yang bisa digunakan atau dapur2an kecil lengkap dengan alat dapurnya, satu ruangan untuk anak kecil yang usia masih belajar merangkak dengan tiga jenis lantai berbeda, tatami dan dua lantai yang empuk, dan terakhir adalah ruangan yang isi nya seluncuran juga berbagai macam penunjang anak agar belajar jalan. Maka ibun dan Faza paling sering nongkrong di tempat untuk bayi belajar merangkak saat itu. Biasanya ibun akan memulai interaksi dengan ibu-ibu jepang atau dimulai dari cengengesan melihat kedua anak kami sedang bertatap-tatapan, dan dilanjutkan dengan ngobrol seadanya pakai bahasa jepang dengan bantuan google translate. Atau jika sedang beruntung, ada mamak jepang yang bisa bahasa inggris dan kami berinteraksi dengan bahasa inggris.
Mulai bulan Juli, kami sekeluarga pindah ke tempat yang cukup jauh dari jidoukan dan kami harus naik bis kalau mau bermain karena jauh dari teman-teman yang anak nya seusia Faza. Sebenarnya bisa saja ibun pergi naik bis, tapi ibun sering malas jika tidak ada alasan penting untuk keluar mengingat rempong nya barang bawaan saat itu, satu stroller yang harus dilipat dan Faza yang harus digendong, belum lagi jika bertemu kakek atau nenek yang suka ngomongin kami pakai bahasa jepang. Rasa nya naik bis selama 10 menit kok kayak berjam-jam, sambil juga berdoa supaya Faza tidak rewel agar tidak menarik perhatian orang jepang yang memasang muka yang sebal. Interaksi Faza pun terbatas dengan bertemu teman-teman ibun saat ibun sedang liqa. Di mana semua teman ibun wanita dan tidak ada pria nya. Dan interaksi itu pun berkurang drastis saat korona melanda karena tidak bisa pergi dengan bebas keluar rumah.
Sampai akhirnya saat angka yang terkena korona menurun, saat musim gugur kami piknik bersama beberapa teman dari Indonesia dan ada lima keluarga saat itu. Saat kami sampai, Faza langsung menangis melihat om-om yang cukup banyak dan tangisannya berlangsung lama. Dia hanya ingin dipeluk dan tidak mau bermain dengan anak lain, bahkan dilirik oleh om-om pun tidak mau. Saat itu kalau tidak salah usia dia 1 tahunan. Ibun dan ayah pada awalnya merasa ini hal yang biasa, sampai akhirnya di beberapa pertemuan selanjutnya ketika Faza berhadapan dengan om-om, dia akan menangis histeris. Ibun dan ayah pun langsung kebingungan mencari solusi untuk Faza. Sampai akhirnya saat itu kami memutuskan untuk konsultasi langsung ke psikolog anak.
Untuk beberapa orang ada yang berpendapat bahwa ke psikolog itu berarti anaknya dalam kondisi perkembangan atau mental yang sangat parah, tapi bagi kami ke psikolog itu karena kami tidak mengerti apa yang terjadi saat itu. Sebagai orang tua yang baru, jauh dari keluarga, dan juga kami berpendapat lebih baik langsung bertanya pada ahli nya daripada hanya menebak-nebak. Ketika konsultasi, ibun langsung bercerita panjang lebar dan detail kepada psikolog nya. Bagaimana ketakutan Faza saat bertemu orang asing dan histeris nya Faza. Sampai akhirnya diberikan solusi untuk diperkenalkan dengan teman-teman dari ayah di rumah, di mana rumah adalah tempat ternyaman Faza. Saat Faza berada di luar rumah, misalnya di taman, maka dia butuh waktu untuk adaptasi juga dengan tempat nya dan harus adaptasi juga dengan om-om yang ada di sekitarnya. Tapi kalau di rumah, maka dia hanya butuh adaptasi dengan om-om yang berkunjung.
Saat itu karena kami tinggal di apartemen yang kecil dan juga jauh aksesnya jauh dari mana-mana akhirnya kami belum menerapkan solusi ini. Kemudian, kami pun perlahan-lahan menerapkan solusi nya saat sudah pindah ke Hiroshima, Faza menginjak usia 2 tahun. Waktu ayah mulai bekerja dan mendapatkan teman-teman baru, maka ayah akan membawa satu orang teman nya itu ke rumah weekend untuk kami jamu. Ditambah juga Faza jadi bisa melihat interaksi kami dengan pria dewasa dan mulai Faza perlahan-lahan diajak bermain bersama. Awalnya dia tidak mau, namun setelah itu setiap weekend dan ayah pergi ke masjid untuk acara bersama teman-temannya, Faza diajak. Alhamdulillah lama kelamaan dia tidak takut lagi. Bahkan sudah sok kenal sok dekat.
Memang sebenarnya ada satu hal paling penting yang harus diingat dalam pendampingan perkembangan anak, SABAR. Tidak perlu membandingkan dengan anak lain dan tetap berusaha dengan versi kita. Karena setiap anak adalah kepompong yang nanti nya akan menjadi kupu-kupu versi mereka sendiri.
Komentar
Posting Komentar