STOP LABELING YOURSELF, VIK
Pola pikir gue dulu terbentuk untuk seringkali memberi label pada diri gue sendiri. Sebagai contoh, waktu gue masih jadi junior di kampus, gue merasa ragu untuk mengutarakan pendapat di tengah forum non akademis karena gue berpikir siapa gue? Siapa orang tua gue? Siapa temen-temen gue? *oke salah fokus. Intinya gue berpikir kalo suara gue itu insignifikan, padahal mungkin orang lain gak ada yang berpikir kayak gitu. Karena terbentuknya pola pikir ini, jadi gue melabeli diri gue untuk tidak memberikan pendapat dan mengiyakan aja pendapat orang yang kadang sebenarnya gue kurang setuju. Sampai akhirnya gue ikut beberapa organisasi dan gue mulai berani berpendapat, well at least di forum-forum kecil. Dan gue sadar, ternyata suara gue sebenernya didengarkan sama orang kalau aja gue berani mengungkapkan. Terlepas dari emang butuh latihan buat berani speak up di depan banyak orang, gue rasa label yang gue sematkan pada diri jadi membatasi ruang gerak dan pikiran gue.
Waktu kuliah S2 kemarin, gue sempat mengikuti kompetisi L’Oreal Brandstorm 2016 untuk cabang Jepang. Temen gue, orang Jepang ngajakin gue dan meminta gue untuk mencari satu personil lain, akhirnya gue mengajak temen gue orang Italia. Mereka berdua berjenis kelamin pria sedangkan gue wanita, mereka berdua juga gue rasa pinter banget karena gue kan emang udah pernah sekelas sama keduanya. Dan terkadang ada kondisi dimana kita sedang berdiskusi dan gue lebih berfokus pada pikiran kalau gue cewek dan gue kurang kritis, jadi kayaknya suara gue gak oke nih, ide gue kurang oke dibandingkan mereka. Setiap perasaan itu dateng, gue langsung berusaha buat menghapus jauh-jauh, emang susah banget tapi setidaknya gue bisa meminimalisir pikiran itu dengan cara membaca penelitian terkait lebih banyak. Pada akhirnya saat gue mengungkapkan pendapat, mereka menerima pendapat gue dan misal nya pun ada yang tidak sependapat ya bisa didiskusikan lagi. Sampai akhirnya kita lolos ke babak 5 besar nasional dan diundang untuk presentasi langsung di kantor L’Oreal nya. Walaupun kita gak jadi pemenang lomba nya saat itu, tapi gue belajar banyak banget dari pengalaman itu. Dan itu juga menjadikan gue lebih pede untuk mengungkapkan ide-ide gue.
Dan perilaku gue yang melabeli diri sendiri ini tidak gue sadari sampai gue mencoba mengenali diri gue sendiri. Gue emang sadar, dari dulu sering ragu buat menyampaikan pendapat, tapi gue baru sadar kalau akar permasalahan nya adalah gue memberikan label untuk diri gue pribadi.Sampai sekarang, gue pun masih mencoba buat menghapuskan label-label yang membatasi ruang gerak dan kreativitas gue. Karena pada akhirnya, gue harus jadi orang pertama yang yakin dengan semua kemampuan yang gue miliki, bahkan ketika ada orang lain yang meragukan diri gue.
Komentar
Posting Komentar