Layanan Kehamilan dan Melahirkan di Jepang

Di Jepang, seperti yang diketahui, penduduknya mengalami penurunan angka populasi dan pemerintah pun mencari cara agar rakyatnya mau memiliki anak. Salah satu nya adalah dengan menyediakan fasilitas yang super lengkap mulai dari pemeriksaan kehamilan sampai kelahiran. Waktu hamil dulu, gue periksa di rumah sakit negeri nama nya Kawasaki Municipal Tama Hospital. Di sana, mereka menyediakan jasa translator untuk para orang asing yang tidak dapat berbicara bahasa jepang dan ini tidak diminta biaya tambahan untuk bayar nya. Selain itu, saat gue pertama mengetahui kehamilan yakni lewat test pack dan periksa ke dokter, gue langsung diarahkan ke kelurahan (di sini nama nya kuyakusho) buat daftar dan dikasih lah seperangkat alat shalat dibayar tunai... enggak deng wkwk. Dikasih seperangkat buku terkait kehamilan yang tersedia dalam beberapa bahasa, bahkan ada bahasa indonesia lho! Saking banyaknya orang Indonesia yang melahirkan kayaknya wkwk. Nah salah satu buku nya ada buku diskon rumah sakit, isi nya puluhan kupon yang bisa kita tuker pas pembayaran, paling besar kalo gak salah kuponnya sampai 20 rb yen (setara 2 juta). Jadi alhamdulillah saat pemeriksaan kehamilan gak terlalu banyak memakan biaya.  Selain itu, dikasih satu buku maha penting yang selalu dibawa saat pemeriksaan, bahkan sampai sekarang vaksin Faza umur 1 tahun 9 bulan juga masih pake buku itu. Di sana ada kondisi awal sebelum kehamilan kayak BB dan riwayat kehamilan, berat lahir Faza, dsb.

    Dan saat kelahiran, kita pun disubsidi untuk biaya lahirnya yang setara dengan 40 juta-an rupiah, berhubung gue dulu di rumah sakit negeri, jadi ini sangat ngebantu banget dan jadi relatif murah untuk biaya RS nya. Gue dan suami cukup membayar 6 juta rupiah untuk layanan RS yang melingkupi ruang rawat inap selama 5 hari beserta makan 3 kali dan layanan kesehatan pemeriksaan Faza dari lahir. Layanan kesehatannya pun termasuk saat Faza harus diberi sinar beberapa hari karena dia kuning dan ini dilakukan selama 2 hari. Ditambah juga termasuk biaya infus dan layanan cek darah waktu gue pertama masuk rumah sakit untuk lahiran karena gue demam saat itu.

   Jadi keinget dulu pas lahirin Faza, berhubung jadi orang tua baru, gue dan aa masih belum terbayang praktik untuk memandikan bayi baru lahir dsb. Ditambah gue lahiran nya 2 minggu sebelum due date, jadi belum ada orang tua gue dan aa yang bisa nemenin dan ngajarin ini itu. Alhamdulillah saat di RS gue diajarkan cara memandikan bayi, cara menyusui, dan mengganti popok bayi. Ini super ngebantu sih... Jadi di rumah sakitnya, mereka sampai memberikan form yang harus diisi dengan detail jam dan menit untuk keterangan menyusui, dan berapa kali si bayi pipis atau BAB. Gue ngerasa bener2 belajar di momen ini, dan walaupun gue gak begitu ngerti bahasa Jepang, susternya bisa ngejelasin sampe gue ngerti.

    Fasilitas layanan kesehatannya tidak berhenti sampai di situ. Satu bulan setelah kelahiran, kami (gue, aa, dan Faza) wajib periksa ke rumah sakit untuk melihat perkembangan sang anak plus juga ada bidan dari kelurahan yang datang ke rumah kami untuk mengecek kondisi anak dan ibu (misal apakah ibu mengalami depresi dll.). Nah saat bidan ini datang, dia memberitahukan juga letak fasilitas untuk anak baik outdoor ataupun indoor yang bisa dikunjugi for free. Dia juga memberitahukan ada kelas-kelas parenting yang bisa kami ambil untuk belajar, namun sayang nya full bahasa jepang jadi bye bye deh.

    Memang sebagai negara maju yang pengelolaan keuangan negara nya sangat mantap, di sini sampai sekarang Faza selalu gratis kalau sedang sakit dan harus periksa ke dokter, juga seluruh vaksin yang memang wajib digratiskan. Setiap bulan pun, setiap anak dari sejak lahir sampai umur tertentu, kalo Faza sampe sekarang pun mendapatkan child allowance per bulan untuk kebutuhan beli popok atau susu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

It takes a village to raise a child

Langkah Kecil di Dunia yang Asing