Pemeriksaan Kehamilan_Cerpen version
Tingkat kepasrahan tertinggi kurasakan saat melahirkan
13 November 2018
Pagi itu, aku dan suami sudah bergegas untuk bersiap-siap karena jam 8 pagi kami sudah harus berangkat ke rumah sakit. Setelah mengenakan jaket tebal dan baju berlapis-lapis, kami pun langsung keluar rumah. Wussh.. Semburan angin di musim dingin semakin membuatku merapatkan jaket.
“A, tunggu sebentar, jangan cepat-cepat jalannya. Aku pengap.” Seruku terengah-engah. Perut yang semakin membesar ditambah dengan jaket super tebal yang menambah berat bebanku membuatku kewalahan untuk berjalan di jalan tanjakan. Bayi yang didalam kandunganku sudah berusia 37 minggu dengan berat lebih dari 2 kg dan menurut teori hanya menunggu hitungan hari sudah siap dilahirkan.
“Oiya.. Maaf maaf.” Suami ku pun memperlambat jalannya dan menggandeng tangan ku. Waktu tempuh kami yang biasa nya hanya membutuhkan 7 menit ke stasiun, bertambah menjadi 15 menit karena kecepatan jalan ku.
Sesampainya di stasiun, kami langsung menuju peron yang diperuntukkan untuk kereta ekspres atau cepat, kereta ini hanya melewati 1 stasiun sebelum akhirnya sampai di stasiun tujuan kami. Sedangkan kereta lokal harus melewati 3 stasiun dan memakan waktu tempuh lebih lama.
“Duh.. rame banget.. Nanti kamu jangan jauh-jauh ya a, aku takut kegencet sama orang perutnya.” Sahutku. Suami ku pun mengangguk. Walaupun jeda antar kereta ekspres hanya 5 menit, namun frekuensi penumpang yang datang tetap tidak sebanding dengan space yang tersedia, alhasil kereta selalu penuh.
Akhirnya kami pun naik, dan suami ku langsung mengambil posisi agar dapat menjaga perut ku tidak terhimpit. Kami mengambil posisi gerbong yang kursi nya khusus diperuntukan untuk ibu hamil dan lansia, namun jangan harap mendapatkan kursi, para anak muda yang bekerja ini terlihat memejamkan mata atau pun memainkan handphone mereka.
“Gantungan tanda ibu hamil yang di tas kamu mana? Keluarin aja biar keliatan jelas sama mereka. Atau mau aku tegur aja biar mereka nya ngasih duduk?” Kata suami ku kesal. Tidak seperti di Indonesia yang apabila ada kejadian seperti ini pasti ditegur oleh banyak orang, di Jepang kebanyakan orang tidak terlalu peduli.
“Gapapa lah a, sebentar juga sampe kok. Insya Allah kuat.” Jawab ku.
Sesampainya di stasiun, kami harus berganti kereta baru akhirnya sampai di rumah sakit. Kereta yang kami naiki tidak seramai yang sebelumnya dan aku pun dapat duduk.
Suasana rumah sakit ramai seperti biasa, kebanyakan yang ada di sana adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Maklum, pola hidup orang Jepang yang sehat membuat mereka tidak mudah sakit dan baru harus memeriksakan kondisi kesehatan secara rutin saat mereka sudah berusia. Banyak diantara pengunjung rumah sakit yang datang sendiri tanpa ditemani keluarga. Setelah pintu masuk, kami pun langsung berbelok ke arah kanan untuk menemui interpreter yang akan menemani kami selama pemeriksaan. Rumah sakit yang menjadi tempat pemeriksaan kehamilanku termasuk rumah sakit yang besar, karena itu mereka menyediakan jasa interpreter untuk menerjemahkan apa yang dijelaskan oleh dokter selama proses pemeriksaan berlangsung.
“Konnichiwa.. Saya sudah membuat janji untuk interpreter hari ini.” Jelas suami ku dalam Bahasa Jepang kepada staff bagian administrasi.
“Atas nama siapa pasiennya?”
“Viky Muruatsu Toibaa.” Jawab suami ku menyebutkan ejaan namaku dalam Bahasa Jepang.
“Oiya, tunggu sebentar ya. Silahkan duduk terlebih dahulu.”
Aku memutar kepala melihat sekeliling, karena biasa nya interpreter kami sudah ada di salah satu kursi menunggu. Seperti orang jepang pada umumnya yang datang 15 menit paling lambat sebelum waktu janjian. Mata ku terpaku pada seorang wanita yang sudah cukup tua, mungkin usia nya 50 tahunan namun tetap terlihat segar dan memiliki raut wajah yang ramah.
“A, kayaknya ibu yang itu deh yang hari ini jadi interpreter kita.” Tebak ku. Memang kami akan mendapatkan interpreter yang berbeda setiap pemeriksaan, sangat kecil kemungkinan kami mendapatkan interpreter yang sama karena mereka dialokasikan ke banyak rumah sakit. Jasa interpreter ini sangat membantu kami karena istilah-istilah kedokteran dalam Bahasa Jepang yang kami tidak mengerti. Ditambah lagi kami tidak perlu merogoh kocek tambahan untuk membayar karena mereka sudah dibayar oleh pemerintah.
“Konnichiwa.. Apakah ini Viky Muruatsu Toiba san?” Tebakan ku benar, ibu yang sejak tadi kuperhatikan menjadi interpreter kami hari ini.
“Iya benar.. Yoroshiku onegaishimasu.” Suami ku mewakilkan.
“Yoroshiku onegaishimasu.”
Komentar
Posting Komentar