Pemeriksaan kehamilan (cont.)
“Kayak biasa yah, kamu langsung aja ke tempat nunggu buat pemeriksaan, biar aku yang ambil nomor antrian.” Ujar Kak Fajar.
“Oke, aku langsung ke sana ya kalo gitu.”
“Suzuki-san, did you wait for a long time?” Aku berbasa basi kepada interpreter.
“Oh, no, I arrived only 15 minutes faster than the appointed time.” Balasnya sambil tersenyum.
“Jadi, sudah berapa lama anda menjadi interpreter?”
“Kurang lebih 10 tahun.”
“Waw..lama sekali 10 tahun.”
“Ya, awalnya saya bekerja lalu saya pensiun dan kemudian saya mendaftarkan diri menjadi interpreter. Apakah kalian dari Indonesia?”
“Iya benar, kami dari Indonesia, anda pernah ke Indonesia sebelumnya?”
“Belum pernah, tapi saya sering mendengar tentang keindahan Bali. Semoga suatu saat saya bisa ke sana.” Seperti orang asing pada umumnya, Bali menjadi pulau yang paling dikenal.
“Ini tiket tunggunya, kamu langsung ukur tensi sama berat badan aja dulu, nanti tinggal dikasih ke bagian registrasi lagi.” Sahut Kak Fajar menghampiriku.
Aku pun langsung menuju ke bagian pengukur tensi, melipat lengan baju, memasukkan tangan ku dan alat nya langsung secara otomatis mengukur besaran tensi. Hasil tensi pun saat itu juga otomatis diprint di alatnya. Selesai mengukur tensi, aku mengukur berat badan ku. Waduh.. udah lewat 1 kg dari yang seharusnya lagi.. Aku merasa khawatir berhubung di Jepang ini rumah sakit sangat pro terhadap kelahiran normal, para ibu hamil diwajibkan membatasi kenaikan berat badannya. Batasannya bergantung dari besaran BMI masing-masing orang, dalam kasusku aku diberi batas sampai 9 kg, tidak perlu ditanya berapa berat badan awal ku. Namun, karena saat trimester pertama aku mengalami mual dan muntah yang hebat dan mengakibatkan aku turun berat badan 3 kg, jadi total kenaikan BB yang diperbolehkan menjadi 12 kg. Salah satu temanku bahkan bercerita kalau dia sampai dirujuk ke bagian nutrisi di rumah sakit untuk membuat rencana meal plan setiap hari nya karena kenaikan BB nya sudah melewati batas.
“A, gimana nih BB ku naik nya udah lewat.” Kak Fajar hanya tertawa mendengar ku. Aku menyerahkan kertas hasil pengukuran tensi dan BB ku ke Kak Fajar dan kami bersama-sama dengan Suzuki-san menuju bagian registrasi.
“Viky-san, bagian registrasi meminta boshitechou anda.” Suzuki-san menerjemahkan instruksi bagian registrasi. Boshitechou adalah buku riwayat kehamilan yang aku miliki sudah satu tahun mulai dari kehamilan pertama ku yang keguguran dahulu sampai hari ini. Di dalamnya ada pengukuran BB, tensi, dan kandungan protein di urin ku serta hasil cek darah ku. Buku ini merupakan buku wajib untuk para ibu hamil di Jepang dan berguna bahkan ketika anak sudah lahir karena terdapat juga data mengenai BB anak saat kelahiran dan jadwal vaksin.
“Oiya, ini.” Kataku sambil menyerahkan buku sakti ku.
“Oke, sekarang kita bisa duduk sambil menunggu di kursi.” Cetus Suzuki-san. Kami bersama-sama menuju ke kursi tunggu yang ada di depan pintu masuk bagian periksa kehamilan, di depan kami terdapat monitor yang menunjukkan nama-nama dokter beserta nomor urut antrian yang diperiksa. Biasanya membutuhkan waktu tunggu minimal 20 menit sampai pemeriksaan.
“Ibu-ibu hamil di Jepang sangat mandiri yah, mereka ke rumah sakit buat pemeriksaan kehamilan tanpa ditemani suami nya. Kalo saya kayaknya harus selalu ditemani sama suami.” Aku membuka pembicaraan hati-hati.
“Iya betul, tapi ini lebih baik dibandingkan di jaman saya dulu. Sekarang banyak juga suami yang menemani istri nya untuk pergi cek kandungan, walaupun tidak semua. Dan para suami sekarang bisa mengambil cuti paternity. Waktu saya dulu, tidak pernah satu kali pun saya ditemani oleh suami untuk periksa kandungan.” Kenang nya.
“Oh ya? Lalu bagaimana dengan pengasuhan anak saat baru lahir waktu dulu?” tanya ku penasaran.
“Nah biasa nya di Jepang ini para ibu yang baru melahirkan akan pulang ke kampung halaman orang tuanya selama 3 bulan, di sana mereka akan dibantu oleh ibu mereka dan diajarkan cara mengasuh bayi. Setelah itu, mereka akan pulang ke rumah nya dan pada masa-masa ini mereka akan merasa sedih karena kehilangan bantuan dari orang lain dalam mengasuh anak nya.” Suzuki-san menerangkan. Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Memang dari yang ku dengar, di Jepang ini biasanya ibu dan bapak memiliki pembagian tugas yang jelas, bapak bekerja keluar rumah dan ibu bertanggung jawab untuk menjaga anak setidaknya untuk satu tahun pertama kelahiran. Setelah itu, ibu bisa bekerja kembali apabila sudah menemukan tempat penitipan anak, apabila belum maka ibu bisa memperpanjang cuti nya sampai 2 tahun sambil mencari tempat penitipan anak. Tidak sedikit juga para ibu yang harus berhenti bekerja sampai anaknya cukup besar. Maklum, di sini umumnya tidak ada asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan rumah.
“Viky-san silahkan masuk ke ruangan nomor 8.” Suara dari speaker memutuskan percakapan kami.
Komentar
Posting Komentar