BBB (Beres-beres Barang)

Gak kerasa sudah akan sebulan aku, suami, dan Faza pindah dari kelurahan Miyamae ke  desa Saijou. Pindahan kali ini menandakan pergantian status juga dari suami yang dulu nya pelajar menjadi pekerja. Maka, seperti ingin memulai kembali dengan lebih baik, sebelum pindahan kami bertekad untuk meminimalisir barang-barang kami yang jujur saja belum pernah kami sortir sebelumnya selama 5 tahun tinggal di Jepang. Dengan berbekal pengetahuan dangkal mengenai teknik Marie Kondo, kami memutuskan untuk memisahkan barang berdasarkan spark joy nya. Barang-barang kami bagi menjadi beberapa kelompok

1. Barang yang disimpan. Biasanya barang ini masih digunakan maksimal jangka waktu beberapa bulan dan dalam kondisi yang masih sangat baik.

2. Barang yang dibuang. Barang-barang yang sudah rusak, baju-baju yang sudah sobek, atau barang-barang yang memang tidak ada orang yang mau mengambil ketika kami hibahkan. Contoh nya saja seperti kulkas dan matras tidur. Untuk barang-barang besar, system pembuangan di Jepang ini adalah harus mendaftarkan dahulu via online untuk kemudian menentukan tanggal diambilnya barang ini, kita juga harus membayar sejumlah uang tertentu saat membuangnya.

3. Barang yang dihibahkan. Barang-barang lain selain yang disebutkan sebelumnya, berupa baju, pernak pernik daiso yang bahkan belum pernah dibeli dan jadi menyesal mengapa terlalu bernafsu untuk beli dulu, dan sebagian alat elektronik.

Kami pun memutuskan untuk mengirimkan baju-baju yang sudah tidak pernah kami pakai lagi untuk dikirimkan ke Indonesia, kondisi baju nya masih sangat layak pakai jadi seperti nya sayang jika langsung dibuang. Total baju yang kami hibahkan sampai tujuh kardus besar. Kami menggunakan jasa Trico yang langsung menjemput ke apartemen dan dijamin sampai ke Indonesia. Jasa ini menggunakan system pengiriman kapal yang membutuhkan waktu kisaran 1 hingga 3 bulan, untuk kami tidak masalah karena yang kami kirimkan bukan makanan. Saat pengelompokkan baju adalah saat-saat yang tergalau buat ku, sebagai orang yang pas liat kepikiran “duh kayaknya masih akan dipakai deh itu baju, kayaknya cocok kalo dipaduin sama ini dan itu” membutuhkan waktu lama untuk akhirnya selesai memilah. Ditambah lagi ada nya Faza yang ketika kita bereskan baju untuk dimasukan ke kotak, dia keluarkan lagi hingga akhirnya aku dan aa memutuskan untuk begadang dan mengerjakan saat malam hari agar lebih efektif.

Baju yang tersisa akhirnya ku putuskan untuk dilipat gaya-gaya Marie Kondo (ceileh gaya bener wkwk). Seperti yang kubilang di awal tadi kan, berhubung ini momen special maka ingin ku mulai lembaran baru yang lebih baik lagi. Sebelumnya, kebanyakan baju ku digantung begitu juga dengan kemeja aa, tapi sekarang ku memutuskan untuk memasukkan ke dalam drawer untuk baju yang tidak terlalu panjang karena memang lebih rapi kelihatannya. Selesai melipat ulang semua baju rasanya ada kepuasan tersendiri karena tampak lebih rapi untukku.

Selain baju, barang lain pun tidak kalah banyak nya, entah itu perintilan dapur, alat cuci baju, ataupun bumbu-bumbu untuk memasak. Tapi memang baru terasa banyaknya seminggu sebelum pindahan, maka barang-barang perintilan ini kami kebut beres-beres nya. Alhamdulillah banyak teman-teman yang membantu proses pindah kami kemarin. Ada yang rela dari pagi sampai sore untuk stay dan bener-bener membantu kami beres-beres barang, ada yang membawakan makan, dan juga ada yang bersedia tempatnya kami repotkan sementara untuk menitipkan barang-barang yang pengirimannya menyusul. Masya Allah… semoga Allah selalu membalas kebaikan temen-temen semua.

Alhamdulillah beruntungnya kami, banyak barang yang sudah dikirim sebelumnya ke Saijou. Berhubung perusahaan tempat aa bekerja menyediakan layanan antar gratis sebulan sebelum pindahan kami, maka saat beres-beres perintilan ini banyak juga barang yang sudah dikirimkan ke alamat baru kami. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

It takes a village to raise a child

Langkah Kecil di Dunia yang Asing