Sepetik Kesan tentang Higashi-hiroshima
Sudah hampir sebulan kami menempati tempat baru, barang-barang yang di kardus sebagian besar sudah dibereskan begitu pula furniture yang sudah dirakit oleh aa dan dibantu oleh asisten Faza (re : direcokin). Alhamdulillah ‘ala kulli hal aku sendiri merasakan nyaman tinggal di sini tidak kalah nyaman dibandingkan dengan di Tokyo dulu, seperti nya memang definisi rumah saat sudah berkeluarga adalah dimanapun asalkan bersama-sama. Walaupun memang fasilitas tidak sebanyak di Tokyo dulu, sebenarnya aku pun tidak tinggal di pusat Tokyo, namun untuk memudahkan bayangan teman-temana maka nya ku sebut saja Tokyo yah. Rumah kami yang dulu satu jam jaraknya dari pusat Tokyo, setengah jam dari Shibuya.
Perbedaan yang paling terlihat salah satu nya adalah ketersediaan publik transportasi di sini. Maksud ku di sini bukan tidak ada nya publik transportasi, namun memang jarang lewat nya, contoh nya saja bis. Berhubung rumah kami yang sekarang cukup jauh dari stasiun, kurang lebih 2 km jaraknya dan aku belum ada sepeda listrik jadi mau tidak mau kami mencoba menggunakan bis untuk menuju stasiun. Bis lewat berkisar 30 menit sekali, jarak dari tempat kami ke halte adalah 750 meter. Kami tentu sempat juga mempertimbangkan untuk membeli mobil untuk memudahkan ke mana-mana tapi kami ingin melihat dulu kebutuhan nya apakah memang akan digunakan setiap hari dsb. Jika tidak, lebih baik menyewa mobil saja karena di Jepang ini memang mudah menggunakan mobil sewaan, biasanya tersedia di parkiran-parkiran yang berbayar, contoh Times, Careco, nikoniko, dll.
Suasana sehari-hari di sini jauh lebih sepi dibandingkan di tempat kami dahulu, mungkin karena kami juga tinggal jauh dari stasiun dan bukan pusat kota, tidak banyak orang berlalu lalang apalagi siang hari saat jam kerja. Kalau dahulu, tempat kami tetap ramai oleh pejalan kaki walaupun jauh juga dari stasiun. Namun, jumlah orang Indonesia yang tinggal di dekat ku sangat banyak, alhamdulillah. Kebanyakan adalah mahasiswa Hiroshima University atau pegawai. Bahkan aku sangat bersyukur karena ada nya toko halal dekat stasiun, tidak perlu jauh naik kereta dan ada masjid juga. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah… Tapi jika pergi ke Hiroshima pusat nya tetap saja ramai, maklum kami tinggal di Higashi Hiroshima. Untuk ke Hiroshima harus menggunakan kereta selama 30 menit dan menembus pegunungan, sehingga tidak heran ongkos kereta pun di sini relatif mahal.
Di depan rumah kami yang sekarang terdapat sungai yang panjang dan tempat ini menjadi salah satu wahana cuci mata nya Faza, biasanya kami menyusuri sungai untuk pergi ke supermarket karena terdapat bebek, ikan, dan kura-kura di sungai tersebut. Dalam satu waktu ketika mencari bebek, tiba-tiba ada burung yang berukuran cukup besar mendarat dekat kami, ternyata itu burung bangau! Pemandangan yang belum pernah kami temukan sebelumnya. Sedangkan di belakang rumah dapat melihat bukit dengan jejeran pohon-pohon rindang, maka aku dan Faza sangat menyukai duduk santai di sofa sambil memandangi bukit dan mencari burung-burung yang lewat.
Penduduk lokal Higashi Hiroshima tidak tampak sesibuk penduduk lokal Tokyo yang kalau jalan kecepatannya seperti shinkansen *lebay sikit. Di sini, banyak anak muda dan anak sekolah yang pergi naik sepeda sambil mengobrol sebelahan. Faktor jarang nya bis lewat sepertinya juga jadi berpengaruh ke pilihan transportasi untuk penduduk di sini. Oleh karena itu, berbeda dengan di Tokyo dulu yang kebanyakan orang memilih naik bis untuk yang tinggal jauh dari stasiun (ada juga yang naik sepeda namun sepengamatanku kebanyakan dari mereka adalah ibu/bapak yang memiliki anak dan menggunakan sepeda nya untuk berbelanja), di sini dari anak SD sampai orang tua banyak yang naik sepeda untuk berpergian. Tapi tentu saja yang mengendarai mobil pun banyak, rata-rata apartemen dan rumah di sini memiliki lahan parkir yang luas untuk setiap penghuni nya berbeda dengan di Tokyo yang biasanya mansion (apartemen dengan bangunan konkrit) atau rumah saja lah yang umumnya menyediakan lahan parkir. Wajar saja mengingat ketersediaan tanah dan balik lagi fasilitas transportasi umum di Tokyo yang lebih banyak dan benri (nyaman).
Komentar
Posting Komentar