Pemeriksaan Kehamilan (III)
Setelah dipanggil, aku, suami dan interpreter kami pun bergegas masuk ke ruang pemeriksaan. Hari itu dokter kami sudah berganti dari dokter yang biasa memeriksa kami. Secara kebetulan dokter yang memeriksa aku dari sejak aku mengalami kehamilan pertama tahun 2016, keguguran di tahun yang sama, periksa rutin tiap bulan karena adanya kondisi khusus pada janin ku hingga aku disarankan untuk tak boleh hamil dulu selama setahun, beliau juga hamil berdekatan dengan ku. Maka dari itu saat mendekati momen kelahiran Faza, beliau pun cuti untuk melahirkan.
Dokter yang ini tampak sangat terburu-buru ketika memeriksa ku, sepertinya memang tipikal yang tidak berbasa basi apalagi dengan foreigner.
“Konnichiwa Viky san, mari langsung ke sebelah untuk pemeriksaan. Hari ini kita sudah mulai periksa untuk pembukaan ya.” Jelasnya singkat.
“Baik.” Sahut ku tak kalah singkatnya.
Akhirnya aku pun bersiap-siap untuk pemeriksaan. Hingga tiba periksa pembukaan dan aku merasakan nyeri yang berlum pernah ku rasakan sebelumnya.
“Sepertinya ada kemungkinan berdarah tapi hanya sedikit dan itu normal.” Kata dokter melihat ekspresi sakit ku.
Dan benar saja ada darah sedikit dan aku merasakan perih sekali saat itu. Sampai rasanya jalanku tidak normal karena sakit yang kurasakan. Aku tidak dapat berpikir dengan jernih setelah pemeriksaan itu, hingga sampai di jalan pulang dan di rumah sebelum tidur pun aku masih kepikiran.
Periksa kayak gini aja sakit gimana nih pas ngelahirin. Hanya itu yang aku pikirkan semalaman.
Pagi-pagi jam 10 tiba-tiba aku merasakan cairan yang keluar, berhubung aku punya kertas lakmus langsung aku cek. Dan benar saja ternyata itu air ketuban. Sepertinya berpengaruh juga karena stress dan kepikiran aku jadi pecah ketubannya. Aku pun langsung bergegas membangunkan suami yang saat itu tertidur, alhamdulillah suami belum pergi ke kampus jadi kami bisa langsung pergi ke rumah sakit.
Kami berdua sebisa mungkin tetap tenang dan bersiap-siap untuk ke rumah sakit sambil memastikan semua barang dan dokumen terbawa. Suami ku memutuskan untuk menyewa mobil terdekat, alhamdulillah saat itu mobil tersedia dan bisa kami gunakan untuk ke rumah sakit. Sebenarnya di Jepang ada layanan taksi khusus untuk melahirkan, jadi kursi penumpang lebih luas dan bisa untuk berbaring, namun kami belum sempat menelepon dan booking karena taksi ini memang harus dibooking terlebih dahulu. Akhirnya dengan berbekal google map, suami ku menyetir ke arah RS.
“Wah, salah jalan kita bun.” Kata suami ku.
“Hah? Oke.” Balasku pura-pura tenang sambil menggeser-geser duduk karena mulai banyak cairan ketuban yang keluar dan membuat ku tidak nyaman. Aku harus tetap tenang karena suami ku mulai panik walaupun aslinya aku tidak kalah panik.
Seketika aku langsung memikirkan adegan film ibu-ibu yang menahan kontraksi sambil naik mobil yang ngebut untuk pergi ke RS. Tapi tentu saja itu hanya di pikiranku, tidak akan mungkin terjadi di Jepang ini khususnya. Alhamdulillah saat itu aku belum mengalami kontraksi jadi belum merasakan rasa sakit.
Sesampai nya di rumah sakit, suami ku langsung menurunkan aku di lobi dan dia memarkirkan dahulu mobilnya. Aku berjalan dengan pelan-pelan menuju meja resepsionis agar ketubannya tidak terlalu deras mengucur. Sampai di resepsionis bersamaan dengan suami ku, dan suami ku pun langsung mengurus keperluan dokumen administrasi rumah sakit. Kami tiba saat itu sekitar jam 10 pagi, dan aku masuk ke ruang kontraksi jam 12 siang. Ada sebuah tas besar berwarna pink yang diberikan rumah sakit pada kami dan berisikan barang-barang yang sekira nya diperlukan selama perawatan di rumah sakit.
Komentar
Posting Komentar