Nikmati Segala Prosesnya

 Saat itu usiaku 21 tahun, tergolong sangat muda untuk menikah mengingat aku baru saja 6 bulan selesai S1. Tentu saja, aku sangat senang saat itu karena akan mengikat janji untuk hidup selama nya bersama seorang laki-laki yang kuanggap sangat baik. Seperti cerita yang sudah digariskan oleh Allah, maka 2 minggu setelahnya kami berdua pergi merantau ke Jepang untuk sama-sama bersekolah. Alhamdulillah Allah mudahkan kami untuk masuk ke kampus yang sama, suami sudah 6 bulan terlebih dahulu ambil S2 di kampus kami. Saat menikah dia sedang libur musim semi dan pulang selama 1 bulan. Banyak ku mendengar bahwa ini adalah hal yang keren, ya tidak munafik ku pikir juga keren saat itu. Aku selalu terinspirasi dengan film Habibie Ainun yang kurasa kalian pasti sudah menonton nya, percaya tidak percaya saking suka nya aku menonton hingga tiga kali. Tidak akan kulupa ada adegan Pak Habibie pulang ke rumah di tengah malam dingin berguyur salju dan sampai di rumah ternyata kaus kaki nya bolong. Ini menyiratkan betapa sederhana nya lifestyle mereka kala awal menikah dulu. Tentu saja aku dan suami tidak sampai seperti itu, alhamdulillah kaus kaki tidak ada yang bolong.

        Wajar menurutku kala aku masih naif dan tidak dalam memikirkan tantangan yang akan kuhadapi setelah pindah ke Jepang. Ketika dulu aku masih menjadi beban keluarga a.k.a tinggal bersama orang tua dan mendapat fasilitas yang memudahkan ku untuk makan, bahkan untuk belanja dan pergi ke mall. Maka setelah tiba sampai di Jepang, aku pun merasakan banyak sekali adaptasi dan akselerasi pembelajaran. Mengapa ku sebut sebagai akselerasi? Karena untukku, sampai dengan detik aku sampai di Jepang hanya beberapa kali aku menggunakan pisau terlebih lagi untuk memotong sayur dan hanya dalam momen tertentu aku harus bersih-bersih rumah. Dan ketika pindah harus melakukan semua nya sendiri. Oleh karena itu, kerja sama dengan pak suami saat itu adalah hal yang mutlak dilakukan. Saat-saat itu aku ingat makanan kami kebanyakan adalah rendang yang dibawa dari Indonesia dan dihangatkan atau gepuk yang hanya tinggal digoreng. Kami pun membagi peran aku untuk memasak dan cuci sedangkan suami membersihkan rumah. Tidak apa-apa kalau masih banyak kekurangan karena kami masih sama-sama belajar, toleransi adalah sebuah kata yang sangat penting untuk dipegang. Harus toleran ketika masakan ku itu-itu aja alias sayur toge karena mengejar kelas, harus toleran ketika suami belum bisa bersih-bersih karena ada deadline dari kampus. Percayalah, saat-saat awal menikah toleransi sangat penting, dan jangan lupa meminta agar selalu Allah jaga untuk tetap bersabar dan saling mengerti. Tentu tidak jarang ada momen sangat lelah dan ingin rasa nya pulang ke Indonesia, tapi ketika Allah menjadi teman cerita sepertinya beban menjadi berkurang sangat signifikan. 

Tantangan awal lainnya adalah bagimana kami saling berkomukasi dengan baik bahkan menurut ku ini masih terkadang menjadi PR hingga sekarang. Sebagai wanita yang kalau mau meminta tolong tapi ngomongnya muter dulu atau kode-kodean dan perasa, disisi lain ada laki-laki yang to the point dan memakai logika. Tidak heran maksud dari masing-masing tidak sampai dengan baik dan memang wajar. Mengutip contoh dari buku Men Are from Mars, Women Are from Venus, ketika wanita curhat, “Capek banget, mana belum masak dan belum nyuci baju.” maka itu artinya, “Sayang.. tolong bantu masak boleh?” namun respon yang diberikan oleh laki-laki adalah “Oh… yaudah istirahat aja dulu.” Atau ketika wanita sedang curhat dan hanya ingin didengarkan atau di dukung, laki-laki malah memberikan solusi. Walaupun sesekali ini masih terjadi, namun dengan pengalaman 5 tahun pernikahan kami, sekarang aku lebih to the point. “Ayah boleh tolong cucikan piring dan buatkan nasi?” Maka dengan ini pak suami akan lebih mengerti dan pasti membantu. Atau disclaimer sebelum bercerita, “Ayah aku mau cerita aja ya gak perlu solusi, jadi tolong dengerin aja.” berhasil membuat suami mendengar tanpa berkomentar.

Banyak sekali hal menantang lainnya yang kami hadapi saat itu, tidak seperti di foto yang terlihat tersenyum dan berjalan ke sana kemari, kami pun sering mengalami penat. Namun hikmah yang selalu kami syukuri adalah dengan adanya akselerasi pembelajaran yang kami hadapi saat itu, kami jadi tahu banyak hal yang bisa dilakukan secara parallel. Bisa belajar dan menjadi seorang istri, dan untuk pak suami bisa mengerjakan pekerjaan di luar kampus (part time) tapi juga tetap melakukan kegiatan akademis nya. Meskipun tidak sempurna, namun satu hal yang selalu ku coba tanamkan di dalam hati. Nikmati segala prosesnya…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

It takes a village to raise a child

Langkah Kecil di Dunia yang Asing