Jalan-jalan ke Miyajima

Tanggal 22 Juli adalah hari libur nasional dalam merayakan Hari Laut. Terdengar asing? Memang, Jepang sebagai salah satu negara tanpa ada nya agama resmi yang diakui, menjadikan hari-hari yang berunsur alam ataupun budaya sebagai hari libur. Sebut saja hari orang tua, hari olahraga, hari laut, dan lain sebagai nya. Tanggal 22 Juli jatuh pada hari Kamis dan kebetulan hari Jumat nya pun libur karena hari olahraga, maka dari itu kami memutuskan untuk pergi berjalan-jalan bersama. Pulau Miyajima menjadi pilihan kami karena di sana ada aquarium yang memiliki rating yang baik dan juga merupakan pulau yang terkenal sebagai destinasi wisata di kawasan Hiroshima. Sebetulnya kami memilih untuk mengunjungi aquarium bukan dikarenakan hari libur laut saat itu, namun Faza memang sangat menggemari ikan dan segala jenis ikan dengan antusias dia hafalkan.

    Kami bersiap sedari pagi hari dan memutuskan untuk menyewa mobil dengan Times car. Kami pun berangkat dengan berbekal makanan dari rumah untuk makan siang dan cemilan yang sudah disiapkan sebelumnya. Aku ingat saat itu aku memasak lauk cukup spesial berupa ayam daun kemangi, wanginya dan rasanya membuatku mengiler saat menulis tulisan ini. Entah mengapa motivasi ku memasak seringkali meningkat saat menjelang liburan bersama keluarga.

    Berhubung Miyajima adalah pulau yang terpisah dari main island, kami harus menaiki kapal untuk sampai di sana. Mobil pun kami masukkan ke dalam kapal dan itu adalah pengalaman pertama untuk kami sekeluarga. Jarak dari pelabuhan Hiroshima ke Miyajima cukup dekat, kurang lebih 15 menit. Awal-awal yang aku rasakan menumpang kapal di dalam mobil adalah sedikit mual, namun saat aku fokus untuk melihat keluar ke arah langit maka kurasakan mual ku berkurang. Berlawanan dengan ku, Faza dan ayah nya tampak menikmati perjalanan di atas kapal. Suara Faza terdengar melengking memberitahukan kami bahwa ada laut dan kapal lainnya di luar sana.

    Kesan pertama yang aku rasakan saat tiba di Pulau Miyajima adalah penyesalan karena harusnya tidak perlu membawa mobil. Sepanjang perjalanan menuju aquarium tampak berjejer toko-toko cinderamata dan makanan yang dinikmati oleh para turis lokal. Banyak yang berjualan es lemon, berbagai jenis es krim, dan minuman lainnya untuk mengusir dahaga yang tak diundang di bawah sengatan matahari. Banyak pula spot untuk berfoto yang dimanfaatkan oleh anak muda sebagai tanda bahwa mereka sedang di Miyajima atau mungkin sebagai pancingan agar saat ngepost foto tersebut gebetannya akan bertanya sedang di mana.

    Sesampainya di aquarium kami tidak langsung turun dari mobil melainkan makan siang terlebih dahulu agar perut tidak kosong saat menikmati atraksi di dalamnya. Kemudian waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 ketika kami membeli tiket masuk dan kebetulan atraksi hewan laut baru saja selesai. Kami pun berkeliling melihat-lihat koleksi hewan yang bervariasi dari mulai mollusca, katak, ikan pari yang bercangkang, dan tentu saja hewan kesukaan Faza, shark. Tidak ketinggalan Faza bernyanyi lagu baby shark sembari menghayati di depan aquarium shark. Ayah nya yang sangat supportive tidak mau kalah dan memberikan instrumen agar lagu lebih meriah ditambah gerakan lengkap lagu nya. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua sambil pelan-pelan melipir ke pinggir pura-pura tidak kenal.

    Puas mengintari aquarium kami balik arah ke pelabuhan Miyajima dan memarkirkan mobil di sana. Rasa nya sangat sayang jika tidak berjalan kaki untuk menikmati keindahan Miyajima. Langkah kami terhenti melihat dari kejuhan banyak rusa yang bersantai di antara manusia, ada yang sedang tertidur, tidak jarang diantara mereka yang sedang diberi makan oleh turis, dan ada pula yang diajak berfoto. Memang, rusa yang berkeliaran dengan liar adalah salah satu daya tarik di Miyajima. Faza tampak tertarik dengan hewan yang bertanduk itu, dia menunjuk-nunjuk dan bagaikan teman yang sudah akrab, memanggil sang rusa. Rusa yang biasa dia lihat hanya lewat gambar akhirnya bisa dilihat langsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Selama Mengandung di Jepang

It takes a village to raise a child

Langkah Kecil di Dunia yang Asing